Paradigma Konstruktivisme dalam Pembelajaran


Memahami Paradigma Konstruktivisme
Pergeseran paradigma pembelajaran yang sebelumnya lebih menitik beratkan pada peran guru, fasilitator, instruktur yang demikian besar, dalam perjalanannya semakin bergeser pada pemberdayaan peserta didik atau siswa dalam mengambil inisiatif dan partisipasi di dalam kegiatan belajar.
Dalam kajian filsafat, berkembangnya konstruktivisme tidak terlepas dan perubahan pandangan yang menempatkan pengetahuan sebagai representasi (gambaran atau ungkapan) kenyataan dunia yang terlepas dari pengamat (objektivisme). Pandangan yang menganggap bahwa pengetahuan merupakan kumpulan fakta. Namun akhir-akhir ini perkembangan pesat pemikiran, terlebih dalam bidang sains yang menempatkan bahwa pengetahuan tidak terlepas dari subjek yang sedang belajar mengerti (Supamo, 1997:18).

Dalam proses perkembangannya pemikiran-pemikiran baru semakin mendapat tempat yang luas, bahwa pengetahuan lebih dianggap sebagai suatu proses pembentukan (konstruksi) yang terus menerus berkembang dan berubah.

Konstruktivisme merupakan respons terhadap berkembangnya harapan-harapan baru berkaitan dengan proses pembelajaran yang menginginkan peran aktif siswa dalam merekayasa dan memprakarsai kegiatan belajarnya sendiri. Konsruktivisme merupakan suatu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri (Von Glasersfeld dalam Bettencourt, 1989 dan Matthews, 1994). Von Glasefeld mengemukakan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan (realitas). Pengetahuan selalu merupakan akibat dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang. Melalui proses belajar yang dilakukan, seseorang membentuk skema, kategori, konsep dan struktur pengetahuan yang diperlukan untuk suatu pengetahuan tertentu. Oleh karena itu, pengetahuan bukanlah tentang dunia yang lepas dari pengamat, akan tetapi merupakan hasil konstruksi pengalaman manusia sejauh yang dialaminya. Menurut Piaget (1971), pembentukan ini tidak pernah mencapai titik akhir, akan tetapi terus menerus berkembang setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman yang baru.

Dalam mencermati realitas kehidupan sehari-hari, para konstruktivis mempercayai bahwa pengetahuan itu ada dalam diri seseorang yang sedang berusaha mengetahui. Siswa sendirilah yang mengartikan apa yang telah diajarkan dengan menyesuaikan terhadap pengalaman mereka (Lorsbach & Tobin, 1992).

Karena kegiatan pembelajaran menekankan kemampuan siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, maka setiap siswa harus memiliki kemampuan untuk memperdayakan fungsi-fungsi psikis dan mental yang dimilikinya. Hal ini terkait dengan proses konstruksi yang menuntut beberapa kemampuan dasar, yaitu;

1) kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman,
2) kemampuan membandingkan, mengambil keputusan (justifikasi) mengenai persamaan dan perbedaan, serta
3) kemampuan lebih menyukai pengalaman yang satu dari pada pengalaman yang lain.

Dalam sebuah kesimpulannya Glasersfeld dan Kitchener(1987) memberikan penekanan tentang 3 hal mendasar berkaitan dengan pemahaman terhadap gagasan konstruktivisme, yaitu;
a. Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek.
b. Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep dan struktur yang perlu untuk pengetahuan.
c. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk pengetahuan, dan konsepsi itu berlaku bila berhadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang.

Implikasi Konstruktivisme dalam Pembelajaran
Belajar merupakan suatu proses mengkonstruksi pengetahuan melalui keterlibatan fisik dan mental siswa secara aktif. Belajar juga merupakan suatu proses mengasimilasikan dan menghubungkan bahan yang dipelajari dengan pengalaman-pengalaman yang dimiliki seseorang sehingga pengetahuannya tentang obyek tertentu menjadi lebih kokoh. Oleh karena itu, terdapat beberapa hal prinsip yang berkaitan dengan pemahaman tentang belajar;
a. Belajar berarti membentuk makna. Makna dalam hal ini merupakan hasil bentukan siswa sendiri yang bersumber dari apa yang mereka lihat, rasakan, dan alami. Konstruksi dalam artian initerkait dengan pengertian yang telah ia miliki.
b. Konstruksi berarti merupakan suatu proses yang berlangsung secara dinamis. Setiap kali seseorang berhadapan dengan fenomena atau pengalaman-pengalaman baru, siswa melakukan rekostruksi.
c. Secara substansial, belajar bukanlah aktivitas menghimpun fakta atau informasi, akan tetapi lebih kepada upaya pengembangan pemikiran-pemikiran baru. Belajar bukan merupakan hasil perkembangan akan tetapi merupakan perkembangan itu sendiri (Fosnot, 1996), suatu perkembangan yang menuntut penemuan dan pengaturan kembali pemikiran-pemikiran seseorang.
d. Proses belajar yang sebenamya terjadi ketika skema pemikiran seseorang dalam keraguan yang menstimulir pemikiran-pemikiran lebih lanjut. Dalam waktu-waktu tertentu situasi mengandung keragu-raguan memiliki unsur positif untuk mendorong siswa belajar.
e. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman siswa tentang lingkungannya.
f. Hasil belajar siswa tergantung dari apa yang telah ia ketahui, baik berkenaan dengan pengertian, konsep, formula dan sebagainya.

Konstruktivisme memandang kegiatan belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam upaya menemukan pengetahuan, konsep, kesimpulan, bukan merupakan kegiatan mekanistik untuk mengumpulkan informasi atau fakta. Dalam proses pembelajaran siswa bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya sendiri.
Foucoult dalam The Arceology, menyatakan pendidikan yang membelenggu merupakan transfer pengetahuan, sedang yang membebaskan merupakan upaya untuk memperoleh pengetahuan dan menjadi proses transformasi yang diuji dalam kehidupan nyata (Maksum & Ruhendi,2004 : 178).
Belajar dalam hal ini lebih dititik beratkan pada pengembangan pemikiran yang memungkinkan siswa mampu memberdayakan fungsi-fungsi fisik dan psikologis dirinya secara menyeluruh. Itulah sebabnya maka konstruktivisme menjadi landasan bagi beberapa teori belajar, misalnya teori perubahan konsep, teori belajar bermakna dan teori skema (Pannen, Mustafa dan Sekarwinahyu, 2005: 16).
Ketika siswa aktif membangun pengetahuan mereka sendiri, maka guru membantu berperan sebagai mediator untuk membangun pengetahuan mereka tersebut. Jelasnya belajar yang berarti terjadi melalui refleksi pemecahan masalah, pengertian-pengertian, dan dalam proses tersebut selalu ada aktivitas untuk memperbaharui tingkat pemikiran yang sebelumnya tidak lengkap. Hal inilah yang mengharuskan siswa untuk selalu berperan aktif, karena keberhasilan pembentukan pengetahuan-pengetahuan, pemikiran-pemikiran baru, baik melalui proses akomodasi maupun melalui asimilasi.
Mencermati peran keaktifan siswa yang sangat penting di dalam konstruktivisme, ada baiknya kita membandingkan dengan pandangan behaviorisme. Dalam pandangan behaviorisme belajar lebih merupakan aktivitas pengumpulan informasi yang diperkuat oleh lingkungannya, sedangkan konstruktivis, pengetahuan itu adalah kegiatan aktif siswa meneliti lingkungannya (Bettencourt, 1989).
Meskipun menurut pandangan konstruktivis upaya membangun pengetahuan dilakukan oleh siswa melalui kegiatan belajar yang ia lakukan, namun peran guru tetap menempati arti penting dalam proses pembelajaran. Dalam pandangan ini, mengajar memang tidak hanya diartikan menyampaikan informasi, akan tetapi lebih menitik beratkan perannya sebagai mediator dan fasilitator (Suparno, 1997: 66). Dalam kegiatan pembelajaran fungsi guru sebagai mediator dan fasilitator dapat dijabarkan dalam beberapa wujud tugas sebagai berikut;
1. Mernyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan murid bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses dan penelitian.
Kegiatan pembelajaran hendaknya dapat memberikan kesempatan secara luas kepada siswa agar mereka dapat mengembangkan kemampuan berpikir, memberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembangnya inisiatif dan kreativitas sesuai dengan modalitas belajamya masing-masing. Pemberian kesempatan kepada para siswa untuk mampu merancang berbagai bentuk kegiatan, merencanakan proses kegiatan dan merancang serta melaksanakan.

2. Memberikan kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya serta ide-ide ilmiahnya.
Dalam pandangan konstruktivisme, ukuran keberhasilan belajar utamanya bukan pada banyak informasi atau pengetahuan yang didapatkan, karena bilamana indikator tersebut yang dijadikan patokan, maka pembelajaran menjadi kegiatan yang statik dan kurang bermakna. Penempatan siswa sebagai subyek aktif mengharuskan mereka untuk terus menerus mengembangkan potensi dan kemampuannya dengan melakukan aktivitas-aktivitas untuk menemukan sesuatu, membangun sendiri pengetahuannya, ekspresi dan gagasan-gagasannya dalam setiap sesi kegiatan pembelajaran.
Guru juga dituntut untuk member kesempatan yang luas kepada siswa agar mereka memiliki waktu yang cukup, rasa percaya diri yang tinggi untuk mengekspresikan gagasan-gagasan dan ide-ide mereka terkait dengan bahan atau materi pembelajaran.

3. Memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran-pemikiran siswa dapat didorong secara aktif.
Kegiatan pembelajaran tidak hanya mengukur ketercapaian materi pembelajaran, akan tetapi juga harus memperhatikan perubahan-perubahan cara berpikir siswa. Apakah melalui kegiatan-kegiatan pembelajaran yang dilalui, menjadikan siswa semakin mampu dan terampil memecahkan masalah, mengatasi kesulitan yang dihadapi. Apakah kemampuan siswa mengkomunikasikan persoalan-persoalan yang dihadapinya semakin baik, sehingga kemampuan dan keterampilan berpikirnya semakin meningkat.

Sejalan dengan hal ini ada beberapa tindakan spesifik yang perlu dilakukan guru untuk mengoptimalisasi perannya dalam proses pembelajaran;
a. Untuk meningkatkan kecermatan guru dalam mengerti apa yang sudah siswa ketahui, maka diperlukan peningkatan intensitas interaksi antara guru dan siswa.
b. Tujuan pembelajaran dan aktivitas-aktivitas di kelas sebaiknya dibicarakan bersama dengan siswa agar mereka dapat berperan aktif dan mendapat pengalaman belajar melalui keterlibatan langsung di kelas.
c. Guru perlu berupaya secara intensif untuk mengetahui pengalaman-pengalaman belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa. Untuk itu maka pembinaan komunikasi dialogis antara guru dan siswa harus terus dikembangkan.
d. Guru perlu berupaya mendorong tumbuhnya rasa percaya diri siswa, bahwa mereka memiliki kemampuan untuk belajar dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
e. Guru perlu bersikap fleksibel, membina keakraban dengan siswa sehingga semakin dapat memahami pemikiran-pemikiran siswa serta kebutuhan-kebutuhan mereka.

Dari uraian-uraian dan contoh yang telah dipaparkan di atas terdapat beberapa prinsip dasar pembelajaran konstruktivisme, yaitu;
1) pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif;
2) tekanan proses belajar terletak pada siswa;
3) mengajar adalah membantu siswa belajar;
4) penekanan dalam proses belajar lebih kepada proses bukanhasil akhir;
5) kurikulum menekankan partisipasi siswa;
6) guru adalah fasilitator.

Atas dasar prinsip tersebut, Brooks and Brooks (1993) mengatakan perbedaan situasi pembelajaran tradisional dengan pembelajaran konstruktivisme dapat dijabarkan seperti pada table berikut;

Perbedaan Situasi Pembelajaran Berdasarkan Pandangan Tradisional dan Konstruktivisme
 Diadaptasi dari Brooks & (1993) Pannen (2005).


Submit Website to Search Engines - Add URL


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Facebook Twitter Delicious Digg Stumbleupon Favorites More